By: iwan agustinus
Presiden SBY dan kabinetnya pada tahun 2009 dengan bangga mengumumkan bahwa Indonesia adalah satu dari tiga negara, RRC dan India yang masih mengalami pertumbuhan ekonomi di tengah krisis ekonomi dunia. Menurut perhitungan versi pemerintah ekonomi tumbuh sekitar 4%, dan akan lebih tinggi bila tidak ada krisis ekonomi dunia.
Namun bila ekonomi Indonesia tumbuh, mengapa rakyat bertambah miskin, setiap hari jumlah orang kelaparan, makan nasi bekas, makan pakan ternak bahkan tidak makan semakin bertambah banyak. Dimana-mana orang mngeluh beban hidup semakin mahal. Biaya-biaya naik demikian cepat. Hal ini dapat kita lihat dari berita2 yang ada di koran, tv, internet dll.
Mengapa hal in bisa terjadi di tengah negara yang katanya tidak terkena krisis ekonomi dan mengalami pertumbuhan? Jawaban dari semua itu adalah:
1.Pertumbuhan ekonomi tidak riil.
Investasi triliuanan yang masuk ke Indonesia itu berupa investasi tidak langsung, yaitu pada pasar keuangan seperti obligasi dan saham. Investasi semacam ini tidak menambah lapangan pekerjaan dan sewaktu-waktu bisa ditarik keluar.
2.Pertumbuhan ekonomi tidak mutu.
Setelah diteliti, ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4%, itu berasal dari sektor pertambangan. Dimana tidak memiliki nilai tambah sama sekali. Barang mentah dari alam dikeruk dari perut bumi Indonesia dan segera diangkut ke luar negeri. Pemerintah hanya menghasilkan penerimaan dari pemberian ijin yang teramat sedikit jumlahnya.
3.Pertumbuhan ekonomi yang belum dikurangi biaya mengatasi bencana akibat ekploitasi alam dan rehabilitasi alam.
Aktivitas penambangan tentu merusak lingkungan dengan parah. Penerimaan negara dari perijinan perusahaan pertambangan, bila dikurangi dengan ongkos menanggulangi bencana akibat alam Indonesia yang rusak, ditambah ongkos rehabilitasi alam, ternyata menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tidak mencapai 4%. Beberapa ahli memperkirakan, setelah dikurangi itu semua, masih harus dikurangi lagi biaya korupsi dan pemborosan.
4.Cara pemerintah mengalokasikan dana pembagunan yang kejam.
Sisa dana yang dipegang pemerintah setelah membayar hutang dan pengeluaran pemerintah, ternyata sebagian besar lewat berbagai cara, digunakan hanya untuk membangun infrastruktur yang berguna bagi perusahaan asing. Jalan-jalan di pedalaman, dengan biaya pembangunan triliunan, hanya dilewati oleh truk2 pengangkut milik perusahaan pertanbangnan.
Infrastruktur yang dapat berguna untuk meningkatakan taraf hidup rakyat kecil, petani dan nelayan kecil diabaikan. Sekalipun ada jumlahnya sangat2 sedikit.
Alih2 menyalurkan dana untuk membangun irigasi, penyediaan pupuk, penyedian benih, bantuan peralatan dan dana untuk wirausaha lokal, wong cilik dan petani kecil. Pemerintahan SBY malah membangun jalan2 beraspal untuk rute yang dilewati truk2 perusahaan asing, membangun hotel mewah yang hanya dinikmati oleh karyawan2 asing bergaji tinggi yang ditempatkan di Indonesia, dll.
Sekali lagi dana pembangunan NKRI hanya dinikmati oleh perusahaan asing. Dana itu ditukar dengan kekayaan alam RI. Dalam suatu kesempatan menkeu Sri Mulyani dengan bangga menyatakan bahwa hotel2 mewah yang ada di Bali adalah hasil dari kebijakan liberalisasi. Yah kalo hotel di Bali Bu, kalo daerah tertinggal di pedalaman apa butuh hotel mewah bu?
5.Cara pememerintah menangani pembayaran hutangnya sendiri
Hutang pemerintah yang demikian besar dibayara dengan cara berhutang lagi lebih banyak. Entah lewat mencetak uang lebih banyak, berhutang pada asing dan berutang pada rakyat negeri sendiri.
Membayar hutang dengan berhutang lebih banyak tentu saja meningkatkan inflasi. Belakangan ini harga sembako naik demikian banyak, beras naik, gula mencapai Rp 11000/kg, bawang naik dll. Para mentri mengatakan itu semua akibat panen gagal, sehingga persediaan turun karena itu harga2 naik Saya melihatnya tidak demikian, harga2 naik disebabkan karena inflasi naik, yang diakibatkan cara pemerintah menangani hutang dengan berhutang lebih banyak lagi.
Saya merinding setiap kali membaca berita bahwa pemerintah akan mengeluarkan uang dengan gambar/model baru. Mengapa? Tanda bahwa pemerintah sedang mengalami kesulitan finansial dan tidak bisa berhutang, karena itu digunakan siasat mencetak uang baru untuk mencetak uang lebih banyak lagi, untuk membayar hutangnya. Selamat datang inflasi lebih tinggi.
Seharusnya cara pemerintah membayar hutangnya lewat minta pemotongan hutang hingga 80%, karena hutang itu dikorupsi oleh orang2 Indonesia yang bermitra dengan korporasi asing. Dan korporasi asing itu bermitra dengan IMF dan World Bank. Inilah cara yg harus ditempuh bila pemerintah tidak mau menyita harta koruptor, yang digunakan untuk membayar hutang
Kelima hal inilah mengapa investasi trliunan masuk, pertumbuhan ekonomi ada pembangunan infrastruktur ada, penerimaan pemerintah tinggi, tapi rakyat tetap miskin. Karena dana pembangunan tidak tepat sasaran. Hanya masyarakat kelas atas yang merasakan pertumbuhan ekonomi,sedangkan kelas bawah / bagian terbesar rakyat Indonesia ya tetap aja menderita. Inilah bila kita memilih parpol dan pejabat dengan gaya neolib.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


3 comments:
meskipun ga baca ampe abis
gue ngerti tulisan lo
eniwey ini referensinya dapet dari mana?
ato emang tulisan sendiri?
cara berpikir lo tinggi juga bro
mangtabs!
dapet dr diskusi ama temen2 di bidang ekonomi
thx bro
dah berkunjung ke TKP,oke juga blognya teruslah berkarya
Post a Comment