Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, December 5, 2009

Berpikir Kritis Tentang Pengacara

By: iwan agustinus

Akhir2 ini di televisi tampil para pengacara yg ga ada sangkut pautnya sama kasus tertentu. Mereka berdebat mengenai hukum. Membela mati2an pendapatnya mengenai suatu kasus. Hal semacam ini tentu membuat rakyat bingung mana yg bener, karena dibuat muter2 ayat2 pasal2, yah ginilah hukum kita yang serba pokoknya2..................main2 tafsiran2 tok tanpa mau melihat substansi. Marilah kita berpikir kritis mengenai keberadaan mereka2 ini.

Apa tujuan dari pengacara itu tampil di tv?

tentunya mencari popularitas supaya dikenal banyak orang, agar jasanya digunakan. Yah itung2 promosi gratislah.

Dalam suatu acara ada pengacara yang membela polisi dan jaksa, apa tujuannya ?

Mungkin biar deket ama petinggi polri dan jaksa, biar lain kali kalo mereka menangani kasus klien mereka diberi kemudahan2 spt penangguhan dll. Biar jadi nilai plus bagi mereka, biar klien2 kaya pada ke mereka semua.

Jadi pengacara2 di Indonesia itu pada komersil?

Ya memang……dimana2 seluruh dunia, sebagian besar 99 persen komersil. Kan mereka cari duit dari sana. Mottonya maju tak gentar membela yang bayar.

Gimana sih polah pengacara di Indonesia?

Kalo kasus mereka menang, bakal bilang keadilan di bumi tercinta ini masih ada. Kalo kalah, bakal bilang hukum udah mati.

Tapi ada juga pengacara yang mau bela kasus kecil, kasus orang ga punya duit?

Itu buat menjaga imej mereka di mata masyrakat. Terkadang buat semacam batu loncatan atau buat menyimbangkan jumlah antara membela koruptor dengan wong cilik baik2. Ga mau kan dikenal sbg pengacara khusus koruptor.

Jadi pengacara itu ga bisa diharapkan buat menegakkan hukum?

Kalo menegakkan hukum, pengacara bisa………negakkan keadilan yang ga bisa!!! Lah wong mottonya maju tak gentar membela yang bayar.

Jadi mesti dihapus dong profesi pengacara?

Oh tidak……..justru keberadaan mereka penting, sekalipun kepentingan utamanya komersil namun kalo komersilnya itu kebetulan lagi sejalan n berpihak pada kebenaran, malah bisa menegakkan keadilan.

Contohnya?

Ada pengacara yg kebetulan setelah menangani kasus korupsi dan menang, trus masyarakat mengenal mereka sbg pengacaranya koruptor. Karena ga mau dikenal dgn reputasi buruk, maka dicarilah cara buat bersihin nama mereka. lalu kebetulan ada kasus wong cilik dituduh membunuh padahal tidak. Trus mereka ngajuin diri tanpa dibayar membela wong cilik itu. nah semacam itu. Sering itu yang beginian.

Trus gimana kalo ada pengacara yg jadi politisi dan kader dari partai yg lagi berkuasa?

Kali aja tuh pengacara cari2 jalan agar deket lingkaran kekuasaan. Biar klien2 mereka para koruptor besar yg pernah mereka bela, tidak diganggu lagi sama penguasa. Biar laen kali ada kasus besar diberikan ke mereka, lah wong mereka mikirnya kalo pake jasa tuh pengacara kan pasti menang, kan tuh pengacara deket ama pejabat2 penting n penguasa yg lagi berkuasa. UUD lah, ujung2nya duit.

Jadi bener ada gosip pengacara itu juga agen kasus?

Yah ada benernya juga. Malah ada yg jadi konsultan kriminalisasi.

Enaknya kita gimana nih sama pengacara?

Ya tenang2 aja. kalo mereka tampil di tv ya didengerin, kalo omongannya ga masuk akal ya dianggep edan, mau nggobloki rakyat akeh, ngoya2 yo ngoya2 tapi nek kebablasan dicap wong gapleki otake ora mikir.

Bila ingin menegakkan hukum carilah pengacara, tapi jangan berharap pada pengacara atu berharap pengacara mau menegakkan keadilan. Di jaman yg ktnya mau kiamat ini hukum dan keadilan adalah dua hal berbeda. Melalui tulisan ini saya mengajak kita semua untuk tidak berharap banyak dan kristis pada profesi pengacara. Moga2 posting saya kali ini berguna bagi semuanya. Bersikap kritis, tapi santun pada siapa saja temasuk pengacara

0 comments: